3 Jenis Tes Covid, Cara Kerja dan Keakuratannya Versi SehatQ.com

Gejala Covid masih tampak menakutkan meskipun sudah terjadi lebih dari satu tahun sampai saat ini. Ada banyak gejala yang menunjukkan infeksi virus ini tetapi ketika diagnosis harus ada tes yang membuktikan validitas infeksi. Indonesia sendiri memiliki beberapa jenis tes covid berbeda untuk melihat keberadaan infeksi Virus Covid-19. Berikut ini ulasannya:

PCR

Tes Polymerase Chain Reaction (PCR) merupakan tes yang memiliki tingkat validitas tinggi untuk melihat gejala virus termasuk Covid-19. PCR menjadi alat tes yang keberadaannya paling direkomendasikan oleh WHO dalam proses diagnosis Covid-19. Tes PCR ini lebih sering digunakan sebagai tes lanjutan bagi orang-orang yang memiliki gejala serangan Covid-19.

Gejala Covid-19 pada pasien seperti sesak napas, penciuman yang tidak peka, hingga pilek dan demam pada pasien. PCR sendiri menggunakan DNA pasien untuk melihat keberadaan pola genetic dari virus Covid-19 itu sendiri. Selama tes, satu hasil saja memerlukan waktu cukup lama yaitu sekitar 1-7 hari untuk analisisnya.

Pengambilan sampel yang dipakai untuk tes PCR sendiri berasal dari lendir di bagian hidung atau tenggorokan pasien. Akan ada alat tertentu yang dimasukkan ke dalam hidung untuk mengambil lendir sebagai sampel. Sampel tersebut akan diekstraksi menggunakan kit tertentu untuk melihat materi genetic dari virus.

Rapid Test Antigen

Selanjutnya ada rapid test antigen sendiri memiliki pengambilan sampel yang mirip dengan tes PCR. Sampel yang digunakan yaitu lendir di bagian hidung atau tenggorokan menggunakan metode swab test. Alat rapid test lalu akan dipakai untuk mengidentifikasi virus yang ada di dalamnya.

Tes covid antigen sendiri memerlukan waktu lebih sebentar dibanding dengan tes PCR yakni hanya sekitar 10-15 menit saja. Pada Antigen, tingkat virus yang bisa terdeteksi hanya ketika viral load tinggi, jadi tidak terlalu akurat. Antigen menjadi tes paling sering digunakan sebagai persyaratan untuk menaiki kendaraan umum seperti kereta, pesawat, hingga kapal laut.

Bisa saja ketika nilai CT berada di angka lebih dari 25-30 maka hasil antigen akan menunjukkan negatif. Padahal bisa saja pasien tersebut terinfeksi virus covid-19 baru, jadi antigen ini kurang sensitif dibandingkan PCR.

Genose

Terakhir ada tes genose yang diciptakan oleh peneliti di Universitas Gadjah Mada dengan cara kerja mengidentifikasi Volatile Organic Compound (VOC). VOC ini bisa terbentuk ketika ada infeksi virus tertentu di dalam tubuh dan dikeluarkan melalui organ pernapasan. Seorang pasien perlu menghembuskan napas terlebih dahulu ke dalam kantong udara khusus sebagai wadah.

Setelah itu, sampel akan dimasukkan dalam tabung khusus yang berisikan sensor pendeteksi VOC tersebut. Dengan menggunakan AI, data akan diproses untuk menentukan apakah ada VOC dari virus di dalamnya. Tes satu ini berlangsung kurang dari 2 menit saja, maksimal bisa dilakukan dalam kurun waktu 3 menit.

Dari hasil tersebut sudah bisa diketahui apakah seseorang terjangkit Covid-19 atau tidak melalui VOC yang dihasilkan. Akan tetapi, tes ini punya validitas lebih rendah karena bisa saja terdapat VOC yang berasal dari gangguan pernapasan lain seperti asma. Tingkat validitas Genose berkisar di angka 92-95% tetapi metode pengambilan sampelnya tergolong yang paling nyaman.

Itulah dia beberapa jenis tes untuk mengetahui keberadaan virus Covid-19 di dalam tubuh seseorang. Setiap tes memiliki tingkat validitas berbeda-beda jadi jika terjadi sesuatu sebaiknya gunakan PCR untuk menguji keberadaan virus. Dapatkan tes pendeteksi covid terpercaya serta banyak promo kesehatan lainnya di SehatQ.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *